Jumat, 03 September 2010

kemuliaan Puasa Ramadhan, 16 Agustus 2010

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Saturday, 21 August 2010


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ اللَّهُ :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمَ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ( صحيح البخاري )
Sabda Rasulullah saw : Allah swt berfirman :
“semua ibadah keturunan Adam (As) untuknya, kecuali puasa, sungguh itu untuk Ku, dan Aku yg akan mengganjarnya (tanpa perhitungan malaikat), dan puasa adalah benteng dari neraka, dan jika dihari puasa kalian, maka janganlah berbicara yg buruk/asusila, jangan bertengkar dan membentak, jika ada yg mencacinya atau menantangnya, maka katakanlah aku sungguh orang yg berpuasa, dan Demi Yang Diriku dalam genggaman Nya (sumpah beliau saw), sungguh aroma tak sedap di mulut orang yg berpuasa, lebih wangi disisi Allah swt dari wanginya minyak wangi termahal, dan bagi yg berpuasa dua kegembiraan, kegembiraan saat berbuka, dan gembira saat berjumpa Pencipta Nya, ia gembira dg puasanya” (Shahih Bukhari)


ImageAssalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ...
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Luhur, Maha Penguasa Tunggal dan Abadi, Maha melimpahkan anugerah sepanjang waktu dan zaman, Maha memiliki matahari dan bulan, Maha memiliki daratan dan lautan, Maha menciptakan hewan dan tumbuhan, Maha memiliki kehidupan dunia dan akhirah, Maha Raja Tunggal dan Abadi sebelum alam semesta dicipta, hingga alam semesta dicipta dan hingga alam semesta berakhir, Sang Maha Ada tetap ada hingga segalanya tiada, mulai dari segalanya belum ada hingga segalanya ada, dan kemudian segalanya tiada, Yang Maha Ada akan tetap ada , sebagaimana firmanNya subhanahu wata'ala :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ( الرحمن : 26-27 )
" Semua yang ada di bumi itu akan binasa, dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan ". ( QS.Ar Rahman : 26-27 )
Segala-galanya akan sirna dan fana, tinggallah Dzat Yang Maha Luhur dan Maha Mulia, Dialah Yang Maha Abadi dan Maha melimpahkan anugerah bagi hamba-hambaNya yang dikehendakinya untuk mencapai kebahagiaan yang kekal, sebagaimana firmanNya :
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ ( البينة : 8 )
" Balasan mereka di sisi Tuhan mereka dalah surga dan yang mengalir di bawahnya sungai-sungai , merek kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya ". ( QS. Al Bayyinah : 8 )
Orang-orang yang beriman mereka akan abadi di dalam kebahagiaan, dan mereka tidak akan pernah berakhir kehidupannya dengan rahasia keabadian milik Allah dianugerahkan untuk mereka-mereka yang risau dan tidak ingin berada di dalam kemurkaan Allah, yang berusaha semampunya untuk selalu berada pada hal yang diridhai Allah, maka mereka berada dalam keluhuran yang abadi, kebahagiaan yang abadi, kesucian yang abadi, kenikmatan yang abadi, wahai Yang Maha Abadi pastikan semua yang hadir mencapai kebahagiaan yang abadi, amin .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Malam ini adalah malam ketujuh bulan Ramadhan, tujuh malam telah lewat dari usia kita di bulan Ramadhan ini dan belum tentu kita mencapai Ramadhan tahun yang akan datang, barangkali bulan Ramadhan yang akan datang kita sudah berada di alam kubur, barangkali di bulan Ramadhan yang akan datang kita tidak bisa lagi shalat tarawih bersama, tidak bisa lagi makan sahur atau buka puasa bersama, tetapi kita hanya menanti balasan dari apa-apa yang kita perbuat dari amal baik dan amal buruk kita, semoga Allah memanjangkan usia kita dalam keluhuran dan kebahagiaan, amin allahumma amin. Di bulan Ramadhan inilah terang benderangnya cahaya keluhuran dan cahaya kasih sayang Allah, sungguh Allah Maha berkasih sayang dari semua yang berkasih sayang, karena Dialah pencipta kasih sayang, karena Dialah Yang mencipta semua kelembutan dan keindahan, tidak ada yang lebih menyayangi kita dari Allah, siapapun dia, entah ia pendosa atau ia orang yang shalih, baik ia orang yang baik atau orang yang jahat, dia orang yang beriman atau orang yang tidak beriman, rahasia kedermawanan Allah terus berlimpah tiada pernah berhenti, demikian setiap detiknya ditunggu sampai mereka mencapai sakaratul maut, ketika mereka mencapai sakaratul maut maka di saat itu berakhir kenikmatan mereka yang tidak beriman, dan kenikmatan itu kekal bagi yang beriman, semoga aku dan kalian wafat dalam husnul khatimah, amin. Dan di bulan Ramadhan Allah lebih berkasih sayang lagi, sebagaimana dijelaskan oleh hujjatul islam wabarakatul anam, Al Imam An Nawawy di dalam Syarah An Nawawiyah 'ala Shahih Muslim beliau mensyarahkan makna hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: " bahwa amal pahala dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat dan lebih ", demikian riwayat di dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Namun di dalam Shahih Al Bukhari pahala hanya dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali saja, sepuluh kali lipat setiap amal pahala, jika seorang hamba berniat berbuat baik maka akan diberi satu pahala, dan jika ia lakukan kebaikan itu maka diberi 10 kali pahala hingga 700 kali lipat, dan jika seorang hamba berniat berbuat jahat maka tidak ditulis untuknya dosa, dan jika ia telah melakukan dosa maka hanya ditulis baginya satu dosa saja, demikian kelembutan Allah, setiap kebaikan dibalas 10 hingga 700 kali lipat. Berkata Al Imam An Nawawi bahwa balasan 700 kali lipat itu adalah pada waktu-waktu tertentu, diantaranya adalah bulan Ramadhan. Di bulan ini setiap satu sujud dibalas dengan 700 pahala sujud, setiap dzikir dan doa dibalas dikalikan 700 kali lipat, setiap ibadah pahalanya dilipatgandakan menjdai 700 kali lipat, ketika kita berdoa dan mengucapkan " Ya Allah " maka akan dikalikan 700 kali lipat, inilah bulan keluhuran, lebih lagi bagi mereka yang berpuasa Ramadhan, sebagaimana ibadah-ibadah yang lainnya juga semakin luhur dan sangat agung di bulan Ramadhan ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Al Bukhari:
الْعُمْرَةُ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً أَوْ حَجَّة مَعِي
" Umrah di bulan Ramadhan seperti Haji, atau haji bersamaku "
Melakukan Umrah di bulan Ramadhan pahalanya sama dengan melakukan Haji di bulan Haji, atau seakan-akan pahalanya sama dengan melakukan ibadah Haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Bukan berarti pahala Umrah yang sama dengan pahala Haji itu bisa mengqadha ibadah Haji nya, ibadah Haji tetap wajib sekali dalam seumur hidup, namun orang yang umrah di bulan Ramadhan itu pahalanya sama dengan melakukan haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, demikian dalam riwayat Shahih Al Bukhari. Berkata Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam kitab Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa hadits ini menunjukkan rahasia kemuliaan bulan Ramadhan yang segenap ibadah dilipatgandakan jauh lebih besar daripada ibadahnya sendiri, sehingga ibadah umrah pahalanya bisa seperti ibadah haji bahkan seperti melakukan haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka betapa besarnya pahala umrah di bulan Ramadhan. Dan mungkin diantara kita yang tidak mampu melaksanakan umrah, dan kita telah mempunyai niat untuk melakukan umrah maka telah dituliskan satu pahala niat meskipun kita tidak berangkat umrah, hanya dengan berniat saja kita sudah mendapatkan satu pahala.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits luhur yang telah kita baca tadi bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam hadits qudsi :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمَ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
Semua amal anak keturunan Adam itu untuk dirinya, maksudnya ditulis oleh malaikat sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah kepada para malaikat, kecuali puasa, sungguh puasa itu untuk Allah dan Allah yang langsung membalasanya. Berkata Al Imam Hujjatul Islam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari tentang makna kalimat ini adalah bahwa semua ibadah
dilipatgandakan besar di bulan Ramadhan ( bahkan Al Imam An Nawawy mengatakan hingga 700 kali lipat dan lebih) kecuali puasa, pahala puasa tidak terhitung besarnya karena Allah berkata dalam hadits qudsi : " Aku yang akan membalasnya ", dan Allah subhanahu wata'ala melimpahkan demikian banyak keluhuran, itulah maksud dari hadits luhur ini.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dalam hadits luhur ini juga disebutkan bahwa jika diantara kalian berpuasa kemudian ada seseorang yang mencaci kalian, atau menantang kalian maka katakan padanya : " aku adalah orang yang berpuasa ". Maka janganlah mengatakan perkataan yang buruk, jangan mencaci, jangan pula menggunjing, jangan saling mengeraskan suara dan membentak satu sama lain karena hal itu mengurangi pahala puasa kita. Puasa itu adalah " Junnah ", yaitu benteng dari api neraka. Al Imam Ibn Hajar berkata di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa kalimat "junnah" memiliki banyak makna, namun para Muhadditsin (Ulama' Ahli Hadits) mengatakan bahwa makna "junnah" dalam hadits ini adalah penghalang dari api neraka. Maka seeorang yang wafat dalam keadaan berpusa maka ia dibentengi oleh Allah maksudnya dia selamat dari api neraka. Dan Allah bersumpah demi Dzat yang Muhammad berada dalam genggamanNya ,
maksudnya berada dalam kekuasan Allah, bahwa orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, kegembiraan yang pertama adalah di saat ia berbuka puasa, dan kegembiraan yang kedua di saat ia berjumpa dengan Allah, karena orang yang berjumpa dengan Allah subhanahu wata'ala tidak semuanya gembira, semua orang akan berjumpa dengan Allah subhanahu wata'ala, sebagaimana firmanNya :
أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ ، لِيَوْمٍ عَظِيمٍ ، يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ( المطففين : 4-6 )
"Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar , yaitu hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam". ( QS. Al Muthaffifin : 4-6 )
Manusia akan dibangkitkan di hari yang agung, di hari itu mereka berdiri di hadapan Rabbul 'alamin, di saat itu ada orang-orang yang sangat risau, ada yang wajahnya berubah menjadi hitam karena dosa-dosanya, ada yang wajahnya bercahaya, ada wajah yang sedih, takut dan risau, dan ada wajah-wajah yang gembira, siapakah yang gembira? Mereka adalah orang yang banyak berpuasa maka disaat mereka berjumpa dengan Allah mereka gembira.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Malam ini malam 17 Agustus, malam kemerdekaan Republik Indonesia yang patut kita syukuri, dan tentunya hal-hal yang baik adalah bertasyakur, berdoa, berdzikir, bersyukur atas nikmat kemerdekaan kita. Jadi, kalau ditanyakan mengapa hari 17 Agustus dilakukan perayaan?, sebenarnya yang patut bukan perayaan, upacara saja pasti ada doanya, yang seyogyanya adalah memperbanyak doa dan syukur, bukan memanjat pohon pinang, bukan pula balap karung, apa keuntungan dari melakukan hal-hal ini? semestinya tasyakuran, tetapi tentunya bukan berarti saya melarang dan menyalahkan, yang mau bergembira dengan melakukan hal-hal itu boleh-boleh saja tetapi lebih afdhal jika kita banyak bersyukur, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala :
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ( إبراهيم : 7 )
" Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ". ( QS. Ibrahim : 7 )
Jika kita bersyukur atas nikmat Allah maka akan Allah tambah kenikmatan itu, jika kita tidak mau bersyukur maka balasannya Allah akan mencabut kenikmatan itu, maka kita banyak bersyukur, berdzikir dan berdoa untuk malam ini dan hari esok.
Hadirin hadirat, selanjutnya yang ingin saya umumkan bahwa besok 17 Agustus di Monumen Proklamasi siaran langsung di TV One bersama Majelis Rasulullah jam 16.00 sampai 17.30 Wib, maka yang punya waktu silahkan hadir, yang tidak bisa hadir silahkan nonton di Tv, yang tidak punya waktu hadir atau nonton maka doakan semoga cuaca baik dan acara sukses, semoga saya sehat wal afiah, karena saat ini kita sangat perlu memperluas dakwah di media, karena media itu langsung masuk ke rumah-rumah orang, kalau majelis ta'lim di tempat majelisnya, dan media seperti televisi hampir di semua rumah ada televisi, jadi kalau dakwah di media itu langsung masuk ke semua rumah dan jauh lebih luas dari dakwah yang lainnya, semoga media-media yang lainnya juga turut untuk membuat hubungan baik dan hubungan kerjasama dengan kita, sehingga semakin sukses dakwah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Malam ini kita membacakan Al Fatihah untuk teman saya yang wafat tadi malam, subhanallah wafatnya malam Senin dan di bulan Ramadhan beliau adalah Al Habib Ali bin Alawy Al Habsyi, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan memuliakannya di alam barzakh bersama semua keluarga, teman dan para kerabat kita yang telah wafat. Beliau adalah teman lama yang dulu saya berdakwah bersama beliau dari tahun 1998 sampai tahun 2000, setelah itu karena masing-masing mempunyai kesibukan akhirnya jarang ketemu, semalam wafat di RS. Mitra Keluarga, semoga Allah melimpahkan keluhuran kepadanya dan kepada semua kerabat dan sahabat kita yang telah wafat…
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ وَاَكْرِمْ نُزُوْلَهُمْ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُمْ وَاغْسِلْهُمْ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَاْلَبرْدِ وَإِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الفاتحة...
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Jadi di hari 17 Agustus perbanyak doa supaya kemerdekaan kita menjadi lebih agung dan lebih mulia, kita semakin diberi keberkahan oleh Allah subhanahu wata'ala. Dan tidak lupa acara agung kita pada malam 17 Ramadhan tepatnya 26 Agustus malam Jum'at yang akan datang di Monas, untuk berdzikir memperingati Haul Ahlu Badr radiyallahu 'anhum wa ardhahum, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa mereka adalah muslimin yang paling afdhal, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari jumlah mereka 313, ada riwayat yang mengatakan jumlah mereka 314 yang dimaksud adalah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Imam Ahlu Badr, ada juga riwayat yang mengatakan jumlah mereka 315 karena ada satu orang yang ikut di tengah-tengah perjalanan, ada riwayat yang mengatakan jumlahnya adalah 319, berkata Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani bahwa diantara mereka adalah orang-orang yang dilarang ikut dalam Badr Al Kubra tetapi tetap saja ikut, dan sebagian anak-anak kecil diantaranya Abdullah bin Umar ra. Kejadian Badr Al Kubra pada hari Jum'at 17 Ramadhan tepat seperti acara yang akan datang 17 Ramadhan adalah hari Jum'at seperti tahun ke-2 H yang lalu. Dan juga Fath Makkah kejadiannya pada tanggal 13 Ramadhan dan riwayat yang lain mengatakan 10 Ramadhan hari Jum'at, dan malam Fath Makkah 13 Ramadhan yang akan datang bertepatan juga dengan majelis kita malam Selasa yang akan datang, semoga dzikir dan doa kita malam Selasa yang akan datang membawa keberkahan dan kemuliaan Fath Makkah dan Badr Al Kubra. Selanjutnya kita tutup dengan doa bertawassul kepada Ahlu Badr, dan sebelum kita bertawassul kepada Ahlu Badr kita berdoa dan berdzikir untuk seluruh bangsa Indonesia, untuk Presiden RI , para menteri, para pejabat dan seluruh rakyat Indonesia semoga dilimpahi keberkahan , keluhuran dan kemuliaan di dunia dan akhirah oleh Allah subhanahu wata'ala …
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
Tidak lupa kita doakan para habaib kita, para ulama' kita dan juga pimpinan Masjid Raya Al Munawwar dan para pengurusnya semoga selalu dilimpahi keberkahan oleh Allah, dan para aparat keamanan dari Polsek, Polres dan Polda Metrojaya yang membantu kelancaran acara ini semoga selalu dalam rahmat dan keberkahan Allah subhanahu wata'ala. Hadirin kita bertawassul kepada Ahlu Badr untuk keselamatan kita dan diakhiri doa penutup oleh pimpinan Masjid Raya Al Munawwar ayahanda kita KH. Muhammad Hasan mata'anallahu bih, tafaddhal masykuraa..

Kemulyaan Ummat ini disebabkan oleh karena Kemulyaan Nabinya saw.

oleh Abah Ghanny pada 31 Agustus 2010 jam 2:01
Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam. Antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat.

Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta: “ceritakan padaku akhlak Muhammad”. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali.

Ali dengan linangan air mata berkata: “ceritakan padaku keindahan dunia ini”.Badui ini menjawab, 'bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini..?”Ali menjawab, 'engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4).

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa 'Khumairah' oleh Nabi ini hanya menjawab: khuluquhu al-Qur'an (Akhlak beliau itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun[23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab: 'ah semua perilakunya indah.'Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri: 'Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'
Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. Terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu.Aisyah berkata: 'mengapa engkau tidur di sin?' Nabi Muhammmad menjawab: 'aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.

'Mari berkaca pada diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan: 'berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.' Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya.

Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata: 'syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.' Dalam riwayat lain disebutkan, 'Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan.Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi(setelah Rqoyyah bt Rosul meninggal Usman dinikahkan dengan Ummi Kulsum bt Rosul), hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan Wahai Nabi. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi.

Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka.Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: Angkat Al-Qaqa bin Mabad sebagai pemimpin.Kata Umar, Tidak, angkatlah Al-Aqra bin Habis.Abu Bakar berkata ke Umar: Kamu hanya ingin membantah aku saja,Umar menjawab: Aku tidak bermaksud membantahmu. Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, 'Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia. Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus.
Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi, Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami.Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?Kata Utbah: Sudah..Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendegarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu.

Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan dibanding si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat: Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata: Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap membereskan orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata: Lakukanlah!Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis seraya berkata: Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.Seketika itu juga terdengar ucapan, Allahu Akbar berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat.

Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain, baik hatinya maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis.Na'udzu billah.....

Nabi Muhammad ketika saat haji Wada, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata: Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian? Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....? Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, 'benar ya Rasul! Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!.Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya.

Dalam catatan ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah. Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah.